Al-Faiz Abdurrahman tumbuh dalam keluarga yang memiliki warisan kuliner khas Palembang. Meskipun di awalnya ragu untuk melanjutkan bisnis keluarga, Al-Faiz akhirnya mengambil alih usaha pempek mereka pada tahun 1990 bersama sang istri, Lakshita Maharani.Al-Faiz bersama sang istri menjalani hidup bahagia di tengah-tengah kota Palembang. Namun hidup bahagia belum lengkap tanpa kehadiran buah hati, bukan? Hampir lima tahun pernikahan mereka berlalu tanpa kehadiran anak, meski begitu mereka tetap bersatu sembari menjalankan usaha keluarga seraya menguatkan tekad jika mereka pasti memiliki keturunan.Penantian mereka tak berujung pahit, berkat tekadnya yang begitu kuat, di pertengahan tahun 1995, Lakshita akhirnya dinyatakan hamil. Rasa syukur dan haru menjadi awal mula keluarga kecil ini di mulai. Hingga tiba di hari persalinan, tanggal 1 Februari 1996, Lakshita melahirkan seorang putri cantik yang diberi nama Seroja Dikala Hujan. Sesuai dengan namanya, Seroja lahir di waktu pagi saat hujan menyapa kota Palembang. Seperti manisnya harum kembang seroja di kala hujan.Kedatangan Gema Sekala Aditama pada tahun 1998 tanggal 1 Februari menjadi keberkahan tambahan dalam keluarga kecil mereka. Gema, dengan arti "suara yang membahana" dan Sekala Aditama yang berarti "skala tertinggi", memberikan makna mendalam bagi Al-Faiz dan Lakshita sebagai orang tua yang menyadari keagungan kehidupan.Dengan kelahiran Seroja dan Gema, rumah tangga mereka dipenuhi dengan keceriaan dan suka cita. Seroja serta Gema menjadi sumber kebanggaan dan kebahagiaan baru dalam hidup keluarga ini, menguatkan ikatan kasih sayang di antara mereka.Al-Faiz dan Lakshita terus berkomitmen untuk memberikan cinta dan dukungan penuh pada kedua anak mereka, menciptakan keluarga yang penuh kehangatan dan kebersamaan. Melalui perjalanan hidup mereka, keluarga ini menjadi bukti bahwa cinta, kesabaran, dan harapan dapat mengatasi segala rintangan, membawa kebahagiaan, dan memperkaya arti sejati dari keluarga.